Rabu, 12 Oktober 2011

BIO TOILET Untuk Daerah Bencana Karya Mahasiswa IPB



Share
Susahnya mencari toilet untuk membuang hajat secara sehat dan manusiawi di daerah bencana membuat para korban atau pengungsi didaerah tersebut membuang hajatnya di sembarang tempat. Akibat ketidak higienisan tersebut mengakibatkan timbulnya penyakit lainnya seperti Diare, ISPA, Kolera dsb.

Melihat kondisi tersebut para mahasiswa IPB membuat inovasi untuk membuat toilet secara cepat dan murah di daerah bencana dan krisis air  yaitu BIO TOILET yang menggunakan berbasis sekam padi dan alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar (Gracillaria sp.) sebagai solusi kelangkaan air bersih di daerah pengungsian.

Adapun penjelasan secara tekhniknya adalah Jumlah sekam bervariasi tergantung pada kondisi penggilingan padi. Dari penggilingan padi dapat dihasilkan 65 persen beras, 20 persen sekam, dan sisanya hilang sedangkan dalam sekam sendiri mengandung senyawa organik berupa lignin dan chetin, selulosa, semiselulossa (pentosan), senyawa nitrogen, lipida, vitamin B, asam organik, dan lainnya.

Dalam sekam padi terdapat 34,34-43,80 persen selulosa yang memiliki sifat di antaranya luas permukaan dan porositas tinggi (85 - 90 persen ruang udara) yang mampu menahan air sebesar 35 - 40 persen.Dengan jumlah yang cukup banyak ini, selulosa dapat menjadi terobosan alternatif sebagai bahan untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran pada konsep kerja biotoilet. Selain itu basis dari biotoilet adalah alkohol hasil fermentasi limbah agar-agar. Limbah industri agar-agar (Gracillaria sp.) merupakan salah satu sumber bahan baku industri kertas yang potensial.

Selain itu, toilet kering ini tidak menebarkan bau layaknya "septic tank" biasa, serta tidak memerlukan saluran pembuangan khusus. Bioteilet cocok jika diaplikasikan pada daerah bencana yakni tempat-tempat pengungsian yang sifatnya darurat dan sementara. Biotoilet ini dirancang khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran karena kotorannya ditampung ke dalam "dry box" yang terbuat dari baja dan lapisan "stainless steel" yang cukup tebal.

Dry Box itu diisi juga dengan sekam padi yang berfungsi untuk menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran. Kotoran langsung ditangkap sekam padi di "dry box" (kotak reaktor) yang berada di bawah lubang toilet. penjelasannya adalah Limbah secara alami terurai menjadi CO2 dan H2O dan tidak memerlukan bakteri khusus, juga tidak menimbulkan bau.

Penulis berharap Inovasi ini dapat diimplementasi pada daerah-daerah bencana dan krisis air oleh pemerintah atau lembaga lain yang peduli tentang kesehatan dan keselamatan korban atau pengungsi didaerah bencana tersebut.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/11/10/11/lswmre-ini-dia-biotoilet-karya-mahasiswa-ipb-untuk-daerah-bencana

0 komentar:

Poskan Komentar

Thanks for your visited.... Don't forget to comment...:)